Makalah Kewirausahaan - kumpulan makalah dan Tugas Sekolah
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Terjadinya
kegagalan pada model pembangunan pada masa lalu, menyadarkan akan perlunya re-orientasi baru dalam
pembangunan, yaitu pendekatan pembangunan yang memperhatikan lingkungan dan
pembangunan yang berwajah manusiawi. Pendekatan tersebut menempatkan manusia
sebagai factor kunci yang memainkan peran penting dalam segala segi. Proses
pembangunan hendaknya sebagai suatu proses yang populis, konsentrasi
pembangunan lebih pada ekonomi kerakyatan, dengan mengedepankan fasilitas
pembangunan pada usaha rakyat kecil.Bertolak dari model pembangunan yang
Humanize tersebut maka dibutuhkan program-program pembangunan yang memberikan
prioritas pada upaya memberdayakan masyarakat. Dalam konteks Good Governance ada tiga pilar yang harus
menopang jalannya proses pembangunan, yaitu masyarakat sipil, pemerintah dan
swasta.
Oleh karena itu SDM/ masyarakat menjadi pilar utama yang harus
diberdayakan sejak awal.Dalam pembangunan perekonomian rakyat, untuk memberdayakan
rakyat hendaklah disertai transformasi secara seimbang, baik itu transformasi
ekonomi, sosial,
budaya maupun politik. Sehingga akan terjadi keseimbangan antara kekuatan
ekonomi, budaya, sosial dan budaya. Dengan adanya pemberdayaan, masyarakat dapat
menjalankan pembangunan dengan diberikan hak untuk mengelola sumber daya
yang ada. Masyarakat miskin diberikan kesempatan untuk merencanakan dan
melaksanakan pogram pembangunan yang telah mereka tentukan.
Dengan demikian masyarakat
diberi kekuasaan untuk mengelola dana sendiri, baik yang berasal dai pemerintah
maupun pihak lain.Menurut Winarni dalam Sulistiyani, inti dari pemberdayaan ada
tiga hal, yaitu pengembangan (enabling), memperkuat potensi atau daya (empowering), dan
terciptanya kemandirian. Pada hakikatnya
pemberdayaan merupakan penciptaan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi
masyarakat dapat berkembang. Setiap masyarakat pasti memiliki daya, akan tetapi
masyarakat tidak menyadari, atau bahkan belum diketahui. Oleh karena itu, daya
harus digali, dan kemudian dikembangkan. Pendidikan kewirausahaan
(entrepreneurship) di Indonesia masih kurang memperoleh perhatian yang cukup
memadai, baik oleh dunia pendidikan, masyarakat, maupun pemerintah. Banyak
praktisi pendidikan yang kurang memperhatikan aspek-aspek penumbuhan mental,
sikap, dan prilaku kewirausahaan peserta didik, baik di sekolah kejuruan maupun
professional sekalipun. Orientasi mereka,
pada umumnya, hanya pada upaya-upaya menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai.
Sementara itu, dalam masyarakat sendiri telah berkembang lama kultur feodal
(priyayi) yang diwariskan oleh penjajahan Belanda. Sebagian besar anggota
masyarakat memiliki persepsi dan harapan bahwa output dari lembaga
pendidikan dapat menjadi pekerja (karyawan,
administrator atau pegawai) oleh karena dalam pandangan mereka bahwa pekerja (terutama
pegawai negeri) adalah priyayi yang memiliki status sosial cukup tinggi dan
disegani oleh masyarakat. Akan tetapi, melihat kondisi objektif yang ada, persepsi dan orientasi di atas musti
diubah karena sudah tidak lagi sesuai dengan perubahan
maupun tuntutan
kehidupan yang berkembang sedemikian kompetitif. Pola berpikir dan orientasi
hidup kepada pengembangan kewirausahaan merupakan suatu yang mutlak untuk mulai
dibangun, paling tidak dengan melihat realitas sebagai berikut:
A.
Senantiasa terjadi ke tidak seimbangan
antara pertambahan jumlah angkatan kerja setiap tahun jika dibandingkan dengan
ke tersediaan lapangan kerja yang ada. Tentu saja kondisi seperti ini
akan mengakibatkan persaingan yang semakin ketat dalam upaya mendapatkan
pekerjaan. Sementara hidup ini tetap harus berjalan dan penghasilan tetap harus
dicari untuk menutup berbagai kebutuhan hidup yang kian mahal.
B.
Yang dibutuhkan dalam
menghadapi tantangan di era global ini
adalah manusia mandiri (independent) yang memiliki keunggulan kompetitif maupun
komparatif, mampu membangun kemitraan sehingga tidak menggantungkan pada orang
lain. Menurut Samuel Hutington, di sini hukum insani berlaku, bahwa yang mampu
bertahan adalah mereka yang berkualitas (bukan yang kuat).
C.
Posisi pekerja, karyawan,
dan pegawai (pada umumnya di negara berkembang) sering berada pada posisi yang
lemah dan ditempatkan sebagai alat produksi (subordinasi) sehingga tidak
memiliki daya tawar yang seimbang. Bekerja sebagai karyawan/pegawai dapat
mencerminkan jiwa pemalas. Sebaliknya, ia malah tidak
dapat mengembangkan ide dan visi selama ia bekerja untuk orang lain. Berdasarkan
asumsi tersebut maka pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya, dengan
cara mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang
dimiliki serta berupaya untuk mengembangkannya dengan dilandasi proses
kemandirian.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar
belakang di atas, maka masalah-masalah yang akan di bahas dalam makalah ini,
yaitu:
1. Apakah yang di maksud dengan pengelolaan dan kewirausahaan?
2. Bagaimanakah ciri dan watak dalam kewirausahaan?
3. Bagaimanakah tahap-tahap dan proses dalam
kewirausahaan?
4. Bagaimanakah faktor-faktor motivasi dalam berwirausaha?
5. Bagaimakah kegiatan kewirausahaan menurut pandangan Islam?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan
masalah yang tersebut di atas, maka tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk menjelaskan pengertian pengelolaan dan kewirausahaan.
2. Untuk mengidentifikasikan ciri dan watak dalam kewirausahaan.
3. Untuk menjelaskan dan mengidentifikasikan tahap-tahap dan proses
dalam berwirausaha.
4. Untuk mengidentifikasikan faktor-faktor motivasi dalam berwirausaha.
5. Untuk menjelaskan dan mengidentifikasi kegiatan kewirausahaan
menurut pandangan Islam.
1.4 Manfaat Penulisan
Bagi Pribadi Meningkatkan
pengetahuan dan wawasan akan ciri dan watak berwirausaha. Selain itu juga,
wawasan akan berwirausaha menurut pandangan Islam semakin jelas dan dapat
meningkatkan motivasi dalam berwirausaha.Bagi Masyarakat (Pembaca)
a) Meningkatkan pengetahuan dan wawasan akan
kewirausahaan beserta proses-prosesnya.
b) Menumbuhkan dan meningkatkan motivasi untuk mulai dan terus
berwirausaha.
c) Meningkatkan
pengetahuan akan kewirausahaan menurut pandangan Islam.
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Pengelolaan dan Kewirausahaan
A. Pengertian Pengelolaan
Pengelolaan =
manajemen (D. Sudjana).
*Manajemen
adalah suatu proses yang khusus yang terdiri dari tindakan-tindakan
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk
menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya (G.R. Terry).
*Manajemen
merupakan serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan,
mengendalikan dan mengembangkan terhadap segala upaya dalam mengatur dan
mendayagunakan sumber daya manusia, sarana dan prasarana secara efisien dan efektif untuk
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. (Stoner, 1981)
*Proses yang
sistematis, terkoordinasi, koperatif dan terintegrasi.
*Mempunyai
tujuan.
*Memanfaatkan
dan Mendayagunakan sumber-sumber.
*Menerapkan fungsi-fungsi manajemen (merencanakan,
mengorganisir, menggerakkan mengarahkan, dan mengendalikan).
B. Pengertian Kewirausahaan
Kewirausahaan pertama kali muncul pada abad 18 diawali dengan
penemuan-penemuan baru seperti mesin uap, mesin pemintal, dll. Tujuan utama
mereka adalah pertumbuhan dan
perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Keuntungan dan kekayaan
bukan tujuan utama. Secara sederhana
arti
wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa
berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa
berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha,
tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. (Kasmir). Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda
antar para ahli/sumber acuan dengan titik berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda,
diantaranya adalah penciptaan organisasi
baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru (Schumpeter,
1934), ekplorasi berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian
(Knight, 1921), dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi (Say,
1803). Beberapa definisi tentang kewirausahaan tersebut diantaranya adalah
sebagai berikut:
*.Richard Cantillon (1775) Kewirausahaan
didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan
membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan
datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada
bagaimana seseorang menghadapi resiko atau ketidakpastian
*.Jean Baptista Say (1816) Seorang
wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan
menemukan nilai dari produksinya.
*.Frank Knight (1921) Wirausahawan
mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini
menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada
dinamika pasar. Seorang wirausahawan disyaratkan untuk melaksanakan
fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan.
*.Joseph Schumpeter (1934) Wirausahawan
adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam
pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam
bentuk
(1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru,
(2) memperkenalkan metoda produksi baru,
(3) membuka pasar yang baru (new market),
(4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru,
atau
(5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri.
Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang
diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber
daya.
*.Penrose (1963) Kegiatan
kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi.
Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.
*.Harvey Leibenstein
(1968, 1979) Kewirausahaan
mencakup kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan
perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas,
atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.
*.Israel Kirzner (1979) Wirausahawan
mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar.
*.Entrepreneurship Center
at Miami University of Ohio Kewirausahaan
sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam
kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih
baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah
penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.
Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari berbagai pengertian tersebut adalah bahwa
kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi
peluang-peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar
berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif.
Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi
resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang
kreatif dan innovatif.
Wirausahawan
adalah orang yang merubah nilai sumber daya, tenaga
kerja, bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada
sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan, inovasi dan cara-cara baru. Selain itu,
seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi
manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai
kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika
membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial
tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya.
Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau
kondisional.Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu
yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan,
memikul resiko finansial, psikologi dan sosial yang menyertainya, serta
menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi
2.2. Ciri dan Watak dalam Kewirausahaan
1.Ciri-ciri
Kewirausahaan
*.Percaya diri.
*.Berorientasi pada tugas dan hasil.
*.Pengambilan resiko.
*.Kepemimpinan.
*.Keorisinilan.
*.Berorientasi ke masa depan.
2. Watak Kewirausahaan
*.Keyakinan, ketidak tergantungan, individualistis, dan optimisme.
*.Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, ketekunan dan
ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat,
energetik dan inisiatif
*.Kemampuan untuk mengambil resiko
2.3. Faktor-faktor Motivasi Dalam Berwirausaha
Ciri-ciri wirausaha yang berhasil menurut Kashmir :
A. Memiliki visi dan tujuan
yang jelas. Hal ini berfungsi untuk
menebak ke mana langkah dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui langkah
yang harus dilakukan oleh pengusaha tersebut
B. Inisiatif dan selalu
proaktif. Ini merupakan ciri mendasar di mana
pengusaha tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetapi terlebih dahulu memulai
dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan.
C. Berorientasi pada prestasi. Pengusaha yang
sukses selalu mengejar prestasi yang lebih baik daripada prestasi sebelumnya.
Mutu produk, pelayanan yang diberikan, serta kepuasan pelanggan menjadi
perhatian utama. Setiap waktu segala aktifitas usaha yang dijalankan
selalu dievaluasi dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.
D. Berani mengambil risiko. Hal ini
merupakan sifat yang harus dimiliki seorang pengusaha kapanpun dan dimanapun,
baik dalam bentuk uang maupun waktu.
E. Kerja keras Jam kerja pengusaha tidak
terbatas pada waktu, di mana ada peluang di situ dia dating. Kadang-kadang seorang pengusaha sulit untuk
mengatur waktu kerjanya. Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ide-ide
baru selalu mendorongnya untuk bekerja kerjas
F. .Bertanggung
jawab terhadap segala aktifitas
yang dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Tanggung jawab
seorang pengusaha tidak hanya pada segi material, tetapi juga moral kepada
berbagai pihak.
G. Komitmen pada berbagai pihak merupakan ciri yang harus
dipegang teguh dan harus ditepati. Komitmen untuk melakukan sesuatu memang
merupakan kewajiban untuk segera ditepati dana direalisasikan.
H. Mengembangkan
dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang
dijalankan maupun tidak. Hubungan baik yang perlu dlijalankan, antara lain
kepada : para pelanggan, pemerintah, pemasok, serta masyarakat luas.
Dari analisis pengalaman di
lapangan, ciri-ciri wirausaha yang pokok untuk dapat berhasil dapat dirangkum
dalam tiga sikap,yaitu :
1. Jujur, dalam arti berani untuk mengemukakan
kondisi sebenarnya dari usaha yang dijalankan, dan mau melaksanakan kegiatan
usahanya sesuai dengan kemampuannya. Hal ini diperlukan karena dengan sikap
tersebut cenderung akan membuat pembeli mempunyai kepercayaan yang tinggi
kepada pengusaha sehingga mau dengan rela untuk menjadi pelanggan dalam jangka
waktu panjang ke depan.
2. Mempunyai tujuan jangka panjang, dalam arti
mempunyai gambaran yang jelas mengenai perkembangan akhir dari usaha yang
dilaksanakan. Hal ini untuk dapat memberikan motivasi yang besar kepada pelaku
wirausaha untuk dapat melakukan kerja walaupun pada saat yang bersamaan hasil
yang diharapkan masih juga belum dapat diperoleh.
3. Selalu taat berdoa, yang merupakan penyerahan
diri kepada Tuhan untuk meminta apa yang diinginkan dan menerima apapun hasil
yang diperoleh. Dalam bahasa lain, dapat dikemukakan bahwa ”manusia yang
berusaha, tetapi Tuhan-lah yang menentukan !” dengan demikian berdoa merupakan
salah satu terapi bagi pemeliharaan usaha untuk mencapai cita-cita.
Kompetensi perlu dimiliki oleh
wirausahawan seperti halnya profesi lain dalam kehidupan, kompetensi ini mendukungnya
ke arah kesuksesan.
Dan & Bradstreet business Credit Service (1993 : 1) mengemukakan 10 kompetensi yang harus dimiliki,
yaitu :
1.Knowing your business,
yaitu mengetahui usaha apa yang akan
dilakukan. Dengan kata lain, seorang wirausahawan harus mengetahui segala
sesuatu yang ada hubungannya dengan usaha atau bisnis yang akan dilakukan.
2.Knowing the basic business management,
yaitu mengetahui dasar-dasar
pengelolaan bisnis, misalnya cara merancang usaha, mengorganisasi dan mengendalikan
perusahaan, termasuk dapat memperhitungkan, memprediksi, meng administrasikan,
dan membukukan kegiatan-kegiatan usaha. Mengetahui manajemen bisnis berarti
memahami kiat, cara, proses dan
pengelolaan semua sumberdaya perusahaan secara efektif dan efisien.
3.Having the proper attitude,
yaitu memiliki sikap yang sempurna
terhadap usaha yang dilakukannya. Dia harus bersikap seperti pedagang,
industriawan, pengusaha, eksekutif yang sunggung-sungguh dan tidak setengah
hati.
4.Having adequate capital,
yaitu memiliki modal yang cukup.
Modal tidak hanya bentuk materi tetapi juga rohani. Kepercayaan dan keteguhan
hati merupakan modal utama dalam usaha. Oleh karena itu, harus cukup waktu,
cukup uang, cukup tenaga, tempat dan mental.
5.Managing finances effectively,
yaitu memiliki kemampuan / mengelola
keuangan, secara efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannnya
secara tepat, dan mengendalikannya secara akurat.
6.Managing time efficiently,
yaitu kemampuan mengatur waktu
seefisien mungkin. Mengatur, menghitung, dan menepati waktu sesuai dengan
kebutuhannya.
7.Managing people,
yaitu kemampuan merencanakan,
mengatur, mengarahkan / memotivasi, dan
mengendalikan orang-orang dalam menjalankan perusahaan.
8.Statisfying customer by providing high quality product,
yaitu memberi kepuasan kepada
pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu, bermanfaat dan
memuaskan.
9.Knowing Hozu to Compete,
yaitu mengetahui strategi / cara
bersaing. Wirausaha harus dapat mengungkap kekuatan (strength), kelemahan
(weaks), peluang (opportunity), dan ancaman (threat), dirinya dan pesaing. Dia
harus menggunakan analisis SWOT sebaik terhadap dirinya dan terhadap pesaing.
10.Copying with regulation and paper work,
yaitu membuat aturan / pedoman yang
jelas tersurat, tidak tersirat. (Triton, 2007 :137 – 139) Delapan anak tangga
menuju puncak karir berwirausaha (Alma, 106 – 109), terdiri atas :
1.Mau kerja keras (capacity for hard
work).
2.Bekerjasama dengan orang lain
(getting things done with and through people).
3.Penampilan yang baik (good
appearance).
4.Yakin (self confidence).
5.Pandai membuat keputusan (making
sound decision).
6.Mau menambah ilmu pengetahuan
(college education).
7.Ambisi untuk maju (ambition
drive).
8.Pandai berkomunikasi (ability to
communicate).
2.4. Kegiatan Kewirausahaan Menurut Pandangan Islam
Islam memang tidak memberikan
penjelasan secara eksplisit terkait konsep tentang kewirausahaan
(entrepreneurship) ini, namun di antara keduanya mempunyai kaitan yang cukup
erat memiliki ruh atau jiwa yang sangat dekat, meskipun bahasa teknis yang
digunakan berbeda.
Dalam Islam digunakan istilah kerja
keras, kemandirian (biyadihi), dan tidak cengeng. Setidaknya terdapat beberapa
ayat al-Qur’an maupun Hadist yang dapat menjadi rujukan pesan tentang semangat
kerja keras dan kemandirian ini, seperti; “Amal yang paling baik adalah
pekerjaan yang dilakukan dengan cucuran keringatnya sendiri, ‘amalurrajuli
biyadihi (HR.Abu Dawud)” serta “Tangan di atas lebih baik dari tangan di
bawah”, “al yad al ‘ulya khairun min al yad al sufla”(HR.Bukhari dan Muslim) (dengan
bahasa yang sangat simbolik ini Nabi mendorong umatnya untuk kerja keras supaya
memiliki kekayaan, sehingga dapat memberikan sesuatu pada orang lain) ,atuzzakah.
(Q.S. Nisa : 77)“Manusia harus
membayar zakat (Allah mewajibkan manusia untuk bekerja keras agar kaya dan
dapat menjalankan kewajiban membayar zakat)”
Dalam sebuah ayat Allah mengatakan,
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan orang-orang yang beriman akan melihat
pekerjaan kamu” (Q.S. at-Taubah : 105). Oleh karena itu, apabila shalat telah
ditunaikan maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia
(rizki) Allah.(Q.S. al-Jumu’ah: 10), Bahkan
sabda Nabi, “Sesungguhnya bekerja mencari rizki yang halal itu merupakan
kewajiban setelah ibadah fardlu”(HR.Tabrani dan Baihaqi). Nashini jelas
memberikan isyarat agar manusia bekerja keras dan hidup mandiri. Bekerja keras
merupakan esensi dari kewirausahaan. Prinsip kerja keras, menurut Wafiduddin,
adalah suatu langkahnyata yang dapat menghasilkan kesuksesan (rezeki), tetapi
harus melalui proses yang penuh dengan tantangan (reziko). Dengan kata lain,
orang yang berani melewati resiko akan memperoleh peluang rizki yang besar.
Kata rizki memiliki makna bersayap,
rezeki sekaligus reziko (dibaca resiko). Dalam sejarahnya Nabi Muhammad,
istrinya dan sebagian besar sahabatnya adalah para pedagang dan entrepreneur mancanegara
yang piawai. Beliau adalah praktisi ekonomi dan sosok tauladan bagi umat. Oleh
karena itu, sebenarnya tidaklah asing jika dikatakan bahwa mental entrepreneurshipinheren
dengan jiwa umat Islam itu sendiri. Bukanlah Islam adalah agama kaum pedagang,
disebarkan ke seluruh dunia setidaknya sampai abad ke -13 M, oleh para pedagang
muslim.
Dari aktivitas perdagangan yang
dilakukan, Nabi dan sebagian besar sahabat telah merubah pandangan dunia bahwa
kemuliaan seseorang bukan terletak pada kebangsawanan darah, tidak pula pada
jabatan yang tinggi, atau uang yang banyak, melainkan pada pekerjaan.
Oleh karena itu, Nabi juga bersabda
“Innallaha yuhibbul muhtarif” (sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang bekerja
untuk mendapatkan penghasilan). Umar Ibnu Khattab mengatakan sebaliknya bahwa,
“Aku benci salah seorang di antara kalian yang tidak mau bekerja yang
menyangkut urusan dunia. Keberadaan Islam di Indonesia juga disebarkan oleh
para pedagang. Di samping menyebarkan
ilmu agama, para pedagang ini juga mewariskan keahlian berdagang khususnya
kepada masyarakat pesisir. Di wilayah Pantura, misalnya, sebagian besar
masyarakatnya memiliki basis keagamaan yang kuat, kegiatan mengaji dan
berbisnis sudah menjadi satu istilah yang sangat akrab dan menyatu sehingga
muncul istilah yang sangat terkenal jigang
(ngaji dan dagang).
Sejarah juga mencatat sejumlah tokoh
Islam terkenal yang juga sebagai pengusaha tangguh, Abdul Ghani Aziz, Agus
Dasaad, Djohan Soetan, Perpatih, Jhohan Soelaiman, Haji Samanhudi, Haji
Syamsuddin, Niti Semito, dan Rahman Tamin.
Apa yang tergambar di atas,
setidaknya dapat menjadi bukti nyata bahwa etos bisnis yang dimiliki oleh umat
Islam sangatlah tinggi, atau dengan kata lain Islam dan berdagang ibarat dua
sisi dari satu keping mata uang. Benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi,
“Hendaklah kamu berdagang karena di dalamnya terdapat 90 persen pintu rizki”
(HR. Ahmad).
Adapun Motif Berwirausaha Dalam Bidang Perdagangan menurut ajaran agama Islam,yaitu:
1.
Berdagang buat Cari Untung? Pekerjaan berdagang adalah sebagian dari pekerjaan
bisnis yang sebagian besar bertujuan untuk mencari laba sehingga seringkali
untuk mencapainya dilakukan hal-hal yang tidak baik. Padahal ini sangat
dilarang dalam agama Islam.
Seperti diungkapkan dalam hadist :
“Allah mengasihi orang yang bermurah hati waktu menjual, waktu membeli, dan
waktu menagih piutang.” Pekerjaan berdagang masih dianggap sebagai suatu
pekerjaan yang rendahan karena biasanya berdagang dilakukan dengan penuh trik,
penipuan, ketidakjujuran, dll
2.
Berdagang adalah Hobi, Konsep
berdagang adalah hobi banyak dianut oleh para pedagang dari Cina. Mereka
menekuni kegiatan berdagang ini dengan sebaik-baiknya dengan melakukan berbagai
macam terobosan.Yaitu dengan open
display (melakukan pajangan di halaman terbuka untuk menarik minat orang), window display (melakukan pajangan di
depan toko), interior display (pajangan
yang disusun didalam toko), dan close
display (pajangan khusus barang-barang berharga agar tidak dicuri oleh
orang yang jahat).
3.
Berdagang Adalah Ibadah, Bagi
umat Islam berdagang lebih kepada bentuk Ibadah kepada Allah swt. Karena apapun
yang kita lakukan harus memiliki niat untuk beribadah agar mendapat berkah.
Berdagang dengan niat ini akan mempermudah jalan kita mendapatkan rezeki. Para
pedagang dapat mengambil barang dari tempat grosir dan menjual ditempatnya.
Dengan demikian masyarakat yang ada disekitarnya tidak perlu jauh untuk membeli
barang yang sama. Sehingga nantinya akan terbentuk patronage buying motive
yaitu suatu motif berbelanja ke toko tertentu saja.
Berwirausaha memberi peluang kepada
orang lain untuk berbuat baik dengan cara memberikan pelayanan yang cepat,
membantu kemudahan bagi orang yang berbelanja, memberi potongan, dll. Perbuatan
baik akan selalu menenangkan pikiran yang kemudian akan turut membantu
kesehatan jasmani. Hal ini seperti yang diungkapkan dalam buku The Healing
Brain yang menyatakan bahwa fungsi utama otak bukanlah untuk berfikir, tetapi
untuk mengembalikan kesehatan tubuh. Vitalitas otak dalam menjaga kesehatan
banyak dipengaruhi oleh frekuensi perbuatan baik. Dan aspek kerja otak yang
paling utama adalah bergaul, bermuamalah, bekerja sama, tolong menolong, dan
kegiatan komunikasi dengan orang lain.
4. Perintah
Kerja Keras, Kemauan yang keras
dapat menggerakkan motivasi untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Orang akan
berhasil apabila mau bekerja keras, tahan menderita, dan mampu berjuang untuk
memperbaiki nasibnya. Menurut Murphy dan Peck, untuk mencapai sukses
dalam karir seseorang, maka harus dimulai dengan kerja keras. Kemudian diikuti
dengan mencapai tujuan dengan orang lain, penampilan yang baik, keyakinan diri,
membuat keputusan, pendidikan, dorongan ambisi, dan pintar berkomunikasi. Allah
memerintahkan kita untuk tawakkal dan bekerja keras untuk dapat mengubah nasib.
Jadi intinya adalah inisiatif, motivasi, kreatif yang akan menumbuhkan
kreativitas untuk perbaikan hidup.
Selain itu kita juga dianjurkan
untuk tetap berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah swt sesibuk apapun
kita berusaha karena Dialah yang menentukan akhir dari setiap usaha.
5.
Perdagangan/ Berwirausaha Pekerjaan Mulia Dalam Islam, Pekerjaan berdagang ini mendapat tempat terhormat
dalam ajaran Islam, seperti disabdakan Rasul : “Mata pencarian apakah yang paling baik, Ya Rasulullah?” Jawab
beliau: Ialah seseorang yang bekerja
dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih.” (HR.
Al-Bazzar).
Dalam QS. Al-Baqarah:275
dijelaskan bahwa Allah swt telah menghalalkan kegiatan jual beli dan
mengharamkan riba. Kegiatan riba ini sangat merugikan karena membuat kegiatan
perdagangan tidak berkembang. Hal ini disebabkan karena uang dan modal hanya
berputar pada satu pihak saja yang akhirnya dapat mengeksploitasi masyarakat
yang terdesak kebutuhan hidup.
6. Perilaku Terpuji dalam Perdagangan/Berwirausaha Menurut Imam Ghazali, ada 6 sifat perilaku yang
terpuji dalam perdagangan, yaitu :
1.Tidak mengambil laba lebih banyak.
Membayar harga yang sedikit lebih mahal kepada pedagang
yang miskin. Memurahkan harga dan memberi potongan kepada pembeli yang miskin
sehingga akan melipat gandakan pahala. Bila membayar hutang, maka bayarlah
lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan. Membatalkan jual beli bila pihak
pembeli menginginkannya. Bila menjual bahan pangan kepada
orang miskin secara cicilan, maka jangan ditagih apabila orang tersebut
tidak mampu membayarnya dan membebaskan ia dari hutang apabila meninggal dunia.
2. Manajemen Utang Piutang Hutang
ini sudah melekat pada kehidupan masyarakat kita.
Dosa hutang tidak akan hilang apabila tidak dibayarkan. Bahkan orang yang mati
syahid pun dosa utangnya tidak berampun. Jadi jika seseorang meninggal, maka
ahli warisnya wajib melunasi hutang tersebut. Tapi jika orang tersebut telah berusaha
membayarnya, tetapi memang betul-betul tidak mampu, dan ia kemudian meninggal
dunia, maka Rasul saw menjadi penjaminnya.
Seperti dalam hadist berikut :“ Barang siapa dari umatku yang punya hutang, kemudian ia berusaha
keras untuk membayarnya, lalu ia meninggal dunia sebelum lunas hutangnya, maka
aku sebagai walinya.” (HR. Ahmad).
3. Demonstration Effect ( Pamer Kekayaan )
Menyebabkan Faktor Modal Menjadi Beku Demonstration
Effect atau pamer kekayaan akan dapat mengundang kecemburuan sosial, orang lain
menjadi iri, mengundang pencuri/perampok, membuat modal masyarakat menjadi beku
dan membuat masyarakat tidak produktif. Nabi saw menganjurkan agar kita
menggunakan uang untuk kepentingan yang di ridhoi Allah, terutama untuk tujuan
pengembangan produktivitas yang digunakan untuk kepentingan umat. Dalam sebuah
hadist disebutkan :“ Barang siapa
mengurus anak yatim yang mempunyai harta, maka hendaklah ia memperdagangkan
harta ini untuknya, jangan biarkan harta itu habis termakan sedekah (zakat).”
(HR. At-Tarmidzi dan Ad-Daruquthni).
Dalam hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa
apabila kita memiliki modal, maka janganlah disimpan begitu saja, tetapi harus
digunakan untuk sesuatu yang menghasilkan.
4. Membina Tenaga Kerja Bawahan
Hubungan antara pengusaha dan pekerja harus
dilandasi oleh rasa kasih sayang, saling membutuhkan, dan tolong menolong. Hal
ini dapat dilihat dari hubungan dalam bidang pekerjaan. Pengusaha menyadiakan
lapangan kerja dan pekerja menerima rezeki berupa upah dari pengusaha. Pekerja
menyediakan tenaga dan kemampuannya untuk membantu pengusaha untuk
menyelesaikan pekerjaan yang diperintahkan. Majikan mempunyai hak untuk
memerintah bawahan dan mendapat
keuntungan. Majikan juga mnemiliki kewajiban yaitu membayar upah karyawan
sesegera mungkin dan melindungi karyawannya. Seperi dalam hadist berikut :“
Berikanlah kepada karyawanmu upahnya sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu
Majah)
Sebagai majikan kita juga harus menyayangi dan
memperlakukan bawahan dengan baik karena itu ada dalam ajaran islam.
2.5. Sifat-Sifat Seorang Wirausaha
Sifat yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha
yang sesuai dengan ajaran agama Islam adalah :
1.Sifat
Takwa, Tawakkal, Zikir, dan Syukur
Sifat ini harus dimiliki oleh wirausahawan karena
dengan sifat-sifat itu kita akan diberi kemudahan dalam menjalankan setiap
usaha yang kita lakukan. Dengan adanya sifat takwa maka kita akan diberi jalan
keluar penyelesaian dari suatu masalah dan mendapat rizki yang tidak disangka.
Dengan sikap tawakkal, kita akan mengalami kemudahan dalam menjalankan usaha
walaupun usaha yang kita jalani memiliki banyak saingan. Dengan bertakwa dan
bertawakkal maka kita akan senantiasa berzikir untuk mengingat Allah dan
bersyukur sebagai ungkapan terima kasih atas segala kemudahan yang kita terima.
Dengan begitu, maka kita akan merasakan tenang dan melaksanakan segala usaha
dengan kepala dingin dan tidak stress.
2. Jujur
Dalam suatu hadist diriwayatkan bahwa: ”Kejujuran
akan membawa ketenangan dan ketidakjujuran akan menimbulkan keragu-raguan.” (HR.
Tirmidzi). Jujur dalam segala kegiatan yang berhubungan dengan orang lain maka
akan membuat tenang lahir dan batin.
3. Niat
Suci dan Ibadah
Bagi seorang muslim kegiatan bisnis senantiasa
diniatkan untuk beribadah kepada Allah sehingga hasil yang didapat nanti juga
akan digunakan untuk kepentingan dijalan Allah.
4. Azzam
dan bangun Lebih Pagi
Rasul saw mengajarkan agar kita berusahamencari
rezeki mulai pagi hari setelah shalat subuh. Dalam sebuah hadist disebutkan
bahwa: ” Hai anakku, bangunlah! sambutlah rizki dari Rabb-mu dan janganlah kamu
tergolong orang yang lalai, karena sesungguhnya Allah membagikan rizki manusia
antara terbitnya fajar sampai menjelang terbitnya matahari.” (HR. Baihaqi)
5.
Toleransi
Sikap toleransi diperlukan dalam
bisnis sehingga kita dapat menjadi pribadi bisnis
Yang mudah bergaul, supel,
fleksibel, toleransi terhadap langganan dan tidak kaku.
6.
Berzakat dan Berinfak
“ Tidaklah harta itu akan berkurang karena disedekahkan dan Allah tidak
akan akan menambahkan orang yang suka memberi maaf kecuali kemuliaan. Dan
tidaklah seorang yang suka merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan
meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim).
Dalam hadist tersebut telah diungkapkan bahwa
dengan berzakat dan berinfak makakita tidak akan miskin, melainkan Allah akan
melipat gandakan rizki kita. Dengan berzakat, hal itu juga akan membersihkan
harta kita sehingga harta yang kita perolehmemang benar-benar harta yang halal.
7.
Silaturahmi
Dalam usaha, adanya seorang
partner sangat dibutuhkan demi lancarnya usaha yang kita lakukan. Silaturahmi
ini dapat mempererat ikatan ke keluargaan dan memberikan peluang-peluang bisnis
baru. Pentingnya silaturahmi ini juga dapat dilihat dari hadist berikut: ”Siapa
yang ingin murah rizkinya dan panjang umurnya, maka hendaklah ia mempererat
hubungan silaturahmi.” (HR. Bukhari)
BAB III PENUTUP
3.1 Uraian
Dari uraian di atas dapat diambil beberapa
simpulan sebagai berikut.
1. Dengan melihat realita secara jujur dan objektif, maka orang sadar bahwa menumbuhkan mental
wirausaha merupakan terobosan yang penting dan tidak dapat ditunda-tunda lagi.
Kita semua harus berpikir untuk melihat dan melangkah ke arah sana.
2.Dalam Islam, baik dari segi konsep maupun praktik, aktivitas kewirausahaan bukanlah hal yang asing,
justru inilah yang sering dipraktikkan oleh Nabi, istrinya, para sahabat, dan
juga para ulama di tanah air. Islam bukan hanya bicara tentang entrepreneurship
(meskipun dengan istilah kerja mandiri dan kerja keras), tetapi langsung
mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.
3.Lembaga pendidikan melalui para praktisinya harus lebih konkret dalam menyiapkan program
kegiatan pembelajaran yang benar-benar dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya
spirit kewirausahaan mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
3.2.
Saran-Saran
Berdasarkan hasil
penelitian, pembahasan dan kesimpulan diatas, penulis memberikan
saran yang bertujuan untuk
meningkatkan jiwa wirauasaha pada mahasiswa, yaitu sebagai berikut:
A. Berkaitan dengan faktor Motivasi Wirausaha, untuk mengembangkan Jiwa Wirausaha pada mahasiswa,
dosen perlu memberikan pengetahuan dan pandangan mengenai bidang kewirausahaan,
bahwa kewirausahaan bukan hanya sekedar mencari untung, namun berwirausaha
untuk beribadah dan kemaslahatan bersama. Dosen juga perlu memberikan pelatihan
- pelatihan dan seminar kewirausahaan untuk mengembangkan bakat dan hobi yang
telah dimiliki oleh mahasiswa, karena ini bisa dijadikan nilai tambah pada
mahasiswa saat mahasiswa telah lulus kuliah, mereka bisa merubah pola pikir
yang awalnya mencari kerja menjadi penyedia kerja. Kewirausahaan merupakan ilmu
yang dapat diterapkan dalam profesi apapun seperti guru, atau profesi lain karena
setiap profesi membutuhkannya. Selain pelatihan mahasiswa juga perlu mandiri
mengembangkan hobi dan minatnya untuk berwirausaha melalui partisipasinya dalam
kegiatan kewirausahaan ataupun mengikuti seminar – seminar
B. Berkaitan dengan faktor Mental Wirausaha, figur orangtua sebagai seorang wirausahawan sangat
berpengaruh dalam pembentukan mental berwirausaha, maka dari itu orang tua
perlu meberikan arahan yang mendukung mental untuk menumbuhkan Jiwa Wirausaha
yang sukses.
Kedisiplinan dalam kuliah
juga sebagai awal dalam pemupukan Jiwa Wirausaha.
C. Tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah mencari ridha Allah swt. Dengan
pendidikan, diharapkan akan lahir individu - indidivu yang baik, bermoral,
berkualitas, sehingga bermanfaat kepada dirinya, keluarganya, masyarakatnya,
negaranya dan ummat manusia secara
keseluruhan. Dalam
pandangan Islam, manusia bukan saja terdiri dari komponen fisik dan materi,
namun terdiri juga dari spiritual dan jiwa. Oleh sebab itu, sebuah institusi
pendidikan bukan saja memproduksi anak didik yang akan memiliki kemakmuran materi,
namun juga yang lebih penting adalah melahirkan individu - individu yang
memiliki diri yang baik sehingga mereka akan menjadi manusia yang serta
bermanfaat bagi ummat dan mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di
akhirat. Institusi pendidikan perlu mengarahkan anak didik supaya mendisiplinkan
akal dan jiwanya, memiliki akal yang pintar dan sifat - sifat dan jiwa yang
baik, melaksanakan perbuatan -perbuatan yang baik dan benar, memiliki
pengetahuan yang luas, yang akan menjaganya dari kesalahan - kesalahan, serta
memiliki hikmah dan keadi
DAFTAR PUSTAKA
yang wajar dan suka
tantangan
*.Perilaku sebagai
pemimpin, bergaul dengan orang lain, menanggapi saran-saran dan kritik
*.Inovatif dan kreatif
serta fleksibel.
*.Pandanga ke depan,
perspektif. (Sumber : dari Meredith, et.a., dalam Suryana, 2001 : 8) Dalam
konteks bisnis, seorang entrepreneur membuka usaha baru (new ventures) yang
menyebabkan munculnya produk baru atau ide tentang penyelenggaraan jasa-jasa.
Karakteristik tipikal entrepreneur
(Schermerhorn Jr, 1999) :
1.Lokus pengendalian
internal
2.Tingkat energi tinggi
3.Kebutuhan tinggi akan
prestasi
4.Toleransi terhadap
ambiguitas
C. Tahap-tahap dan Proses
dalam Kewirausahaan
1.Kepercayaan diri
2.Berorientasi pada
action. Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha
a) Tahap memulai, tahap di mana seseorang
yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang
diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah
membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan franchising. Juga
memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah dibidang pertanian, industri /
manufaktur / produksi atau jasa.
b) Tahap melaksanakan usaha atau diringkas
dengan tahap “jalan”, tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek
yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek : pembiayaan, SDM,
kepemilikan, organisasi,kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil resiko
dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
c) Mempertahankan usaha, tahap di mana
wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis
perkembangan yang dicapai untuk ditindak lanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
d) Mengembangkan usaha, tahap di mana jika
hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat
bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.
2.Proses Kewirausahaan Menurut
Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave (1996 : 3), proses kewirausahaan diawali
dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengeruhi oleh berbagai faktor baik
yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan,
sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut
membentuk locus of control, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan
pertumbuhan yang kemudian berkembangan menjadi wirausaha yang besar. Secara
internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari individu,
seperti locus of control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman.
Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi diantaranya
model peran, aktivitas, dan peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembangan
menjadi kewirausahaan melalui proses yang dipengaruhi lingkungan, organisasi
dan keluarga (Suryana, 2001 : 34).
Secara ringkas, model
proses kewirausahaan mencakup tahap-tahap berikut (Alma, 2007 : 10 – 12) :
a) proses inovasi
b) proses pemicu
c) proses pelaksanaan
d) proses pertumbuhan
Berdasarkan analisis
pustaka terkait kewirausahaan, diketahui bahwa aspek-aspek yang perlu
diperhatikan dalam melakukan wirausaha adalah :
a) mencari peluang usaha baru : lama usaha
dilakukan, dan jenis usaha yang pernah dilakukan.
b) pembiayaan : pendanaan – jumlah dan
sumber-sumber dana,
c) SDM : tenaga kerja yang dipergunakan,
d) kepemilikan : peran-peran dalam pelaksanaan
usaha,
e) organisasi : pembagian kerja diantara tenaga
kerja yang dimiliki,
f) kepemimpinan : kejujuran, agama, tujuan
jangka panjang, proses manajerial (POAC),
g) Pemasaran : lokasi dan tempat usaha.
Terimakasih
#MakalahKewirausahaan #MakalahWirausaha #KumpulanMakalah #Macam-MacamMakalah

Komentar
Posting Komentar